Dua puluh tahun sudah aku
menginjakkan kaki pertama kali di kota ini. Kota Kendari yang dulu pernah aku dengar diplesetkan “Kendala sehar-hari”. Nggak tahu itu sebuah
cemoohan atau sebuah motivasi yang
dibangun orang Kendari agar kota ini cepat berbenah menjadi kota yang bisa
menuntaskan kendala sehari-harinya.
Terlepas dari itu, ada sebuah budaya yang sangat menarik hatiku. Suatu saat aku berkunjung di rumah keluarga yang sedang mengadakan pesta pernikahan anaknya. Mataku tertuju pada sebuah tarian yang menurutku aneh. Betapa tidak, tarian yang menurutku hanya menggerakkan kaki ke sana ke mari, musiknya puntak beraturan, bebas lagu apa saja bisa. Beda dengan yang selama ini saya kenal di jawa, sebuah tarian itu memerlukan keahlian khusus, waktu khusus dan ruang khusus untuk menyajikannya.
Namun makin lama aku amati,
tarian ini punya filosofi sangat dalam.
Ketika kutanya pada salah seorang keluarga, tari ini namanya tari Lulo atau
biasa orang menyebutnya Molulo. Lebih lanjut
dia menjelaskan bahwa tari Lulo
adalah tari yang berasaldari provinsi Sulawesi Tenggara, yang merupakan tarian
tradisional masyarakat suku Tolaki.
Tari Lulo ternyata adalah salah
satu dari sekian banyak tarian tradisional di Sulawesi Tenggara. Menurut sejarahnya, biasa ditampilkan diberbagai
macam acara seperti pernikahan, panen raya, atau acara adat yang diselenggarakan oleh
masyarakat Tolaki.
Iringan musik tradisional berupa
gong dan lagu adat, mereka menari sambil berpegangan tangan dan membentuk
formasi melingkar. Dengan gerakan kaki sesuai irama para penari lulo bersama-sama
memainkan tarian ini dengan suka cita dan tentunya suasana kekeluargaan.
Tarian ini dimaknai sebagai wujud
rasa syukur dari kebahagiaan yang mereka dapatkan. Melalui tarian ini pula menjadi media dalam
mempersatukan dan mempererat hubungan
diantara masyarakat dan keluarga.
Satu lagi kelebihan dari tarian ini adalah, ketika mereka
turun semua akan membaur, sehingga dalam suasana seperti ini tidak
perbedaan antara tua-muda, kaya-miskin, yang jelas tidak ada perbedaan gender,
status sosial ataupun agama.
Disinilah ketertarikan dan
kekagumanku sebagai orang jawa dengan tarian Lulo yang biasanya diselenggarakan
secara bersama dan masal. Semua larut dalam kegembiraan yang dilandasi rasa syukur bersama kepada Allah
SWT atas limpahan rahmatNya.
Tradisi ini sampai saat ini masih
dipertahankan, meskipun ada sedikit perbedaan disebabkan berbagai pengembangan,
namun ciri khas tarian Lulo masih dipertahankan. Aku optimis bahwa tari Lulo
ini akan selalu hidup dikalangan suku Tolaki ataupun masyarakat Sulawesi
Tenggara pada umumnya. Kenapa demikian? Karena aku lihat para pemuda Tolaki
tidak merasa malu atau gengsi dalam ber”Lulo” ria.

No comments:
Post a Comment