Sunday, 1 April 2018

Aku Bangga Menari Lulo


Dua puluh tahun sudah aku menginjakkan kaki pertama kali di kota ini. Kota Kendari  yang dulu pernah aku dengar diplesetkan  “Kendala sehar-hari”. Nggak tahu itu sebuah cemoohan  atau sebuah motivasi yang dibangun orang Kendari agar kota ini cepat berbenah menjadi kota yang bisa menuntaskan  kendala sehari-harinya.

Terlepas dari itu, ada sebuah budaya yang sangat menarik hatiku. Suatu saat aku berkunjung di rumah keluarga yang sedang mengadakan pesta pernikahan  anaknya. Mataku tertuju pada sebuah tarian yang menurutku aneh. Betapa tidak, tarian yang menurutku hanya menggerakkan kaki ke sana ke mari, musiknya puntak beraturan, bebas lagu apa saja bisa. Beda dengan yang selama ini saya kenal di jawa, sebuah tarian  itu memerlukan keahlian khusus, waktu khusus dan ruang khusus untuk menyajikannya.
Namun makin lama aku amati, tarian  ini punya filosofi sangat dalam. Ketika kutanya pada salah seorang keluarga, tari ini namanya tari Lulo atau biasa orang menyebutnya Molulo. Lebih lanjut  dia menjelaskan bahwa tari  Lulo adalah tari yang berasaldari provinsi Sulawesi Tenggara, yang merupakan tarian tradisional masyarakat suku Tolaki.
Tari Lulo ternyata adalah salah satu dari sekian banyak tarian tradisional di Sulawesi Tenggara. Menurut  sejarahnya, biasa ditampilkan diberbagai macam acara seperti pernikahan, panen raya, atau  acara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Tolaki.
Iringan musik tradisional berupa gong dan lagu adat, mereka menari sambil berpegangan tangan dan membentuk formasi melingkar. Dengan gerakan kaki sesuai irama para penari lulo bersama-sama memainkan tarian ini dengan suka cita dan tentunya suasana kekeluargaan.
Tarian ini dimaknai sebagai wujud rasa syukur dari kebahagiaan yang mereka dapatkan. Melalui  tarian ini pula menjadi media dalam mempersatukan  dan mempererat hubungan diantara masyarakat dan keluarga.
Satu lagi kelebihan  dari tarian ini adalah, ketika  mereka  turun semua akan membaur, sehingga dalam suasana seperti ini tidak perbedaan antara tua-muda, kaya-miskin, yang jelas tidak ada perbedaan gender, status sosial ataupun agama.
Disinilah ketertarikan dan kekagumanku sebagai orang jawa dengan tarian Lulo yang biasanya diselenggarakan secara bersama dan masal. Semua larut dalam kegembiraan yang  dilandasi rasa syukur bersama kepada Allah SWT atas limpahan rahmatNya.
Tradisi ini sampai saat ini masih dipertahankan, meskipun ada sedikit perbedaan disebabkan berbagai pengembangan, namun ciri khas tarian Lulo masih dipertahankan. Aku optimis bahwa tari Lulo ini akan selalu hidup dikalangan suku Tolaki ataupun masyarakat Sulawesi Tenggara pada umumnya. Kenapa demikian? Karena aku lihat para pemuda Tolaki tidak merasa malu atau gengsi dalam ber”Lulo” ria.


No comments:

Post a Comment